* Gangguan konsentrasi dan keterampilan mendengarkan. * Tak mampu mengikuti instruksi. * Menghindari pendidikan jasmani di sekolah atau kegiatan fi sik dengan teman-teman. * Sulit memakai baju, menalikan sepatu, dan menggunakan garpu atau sendok. * Keseimbangan badan yang buruk, sulit belajar naik sepeda. * Kesulitan dengan keterampilan motorik halus dan kasar. Contoh motorik kasar, seperti berjalan, berlari, memanjat, melompat, mengatur kecepatan, keseimbangan, bingung menentukan kanan dan kiri dan kelemahan dalam kelenturan otot.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman

Motorik halus, seperti kesulitan mengancingkan baju, menalikan sepatu, menyikat gigi, dan lain-lain. * Memori jangka pendek yang kurang. * Menunjukkan tingkah marah-marah dan frustrasi. Anak dispraksia mempunyai kepercayaan diri yang rendah akibat masalah yang dialaminya. Mereka juga rawan terhadap gangguan depresi serta mengalami kesulitan dalam emosi dan perilaku. Tetapi janganlah cepat mengambil kesimpulan jika si kecil menampakkan satu atau dua gejala di atas. Namun jika memang sangat jelas, untuk lebih meyakinkan, sebaiknya konsultasikan dengan psikolog atau terapis. Setelah akhirnya terdiagnosis dispraksia, si kecil wajib melakukan beberapa terapi seperti sensori integrasi, terapi okupasi ataupun terapi wicara.

PENDEKATAN TERAPI KOORDINASI Meskipun gangguan dispraksia tidak dapat disembuhkan total dan akan terus ada hingga ia dewasa, serangkaian terapi yang dilakukan sejak dini akan meminimalisasi kesulitan dan kekurangan si kecil. Memang ada kemungkinan kambuh beberapa kali, tapi tingkat kesukaran dalam koordinasi gerakan akan semakin menurun. Adapun pendekatan terapi atau pengobatan dapat bervariasi. Penanganan melibatkan terapi sokupasi, fisioterapis, terapis bicara, dan psikolog pendidikan. Kuncinya adalah pendekatan terkoordinasi antara orangtua, wali, guru dan profesional kesehatan. Beberapa saran untuk membantu orangtua: ¦

Menyediakan alat yang sesuai untuk membantu tugas-tugas sulit, misal penggunaan komputer bukan tulisan tangan. ¦ Melatih kekuatan motorik kasar, seperti memperkenalkan olahraga yang sesuai, contoh, berenang, bulu tangkis, dam sebagainya. ¦ Meningkatkan kepercayaan diri anak, perasaan memiliki, dan membantu ia untuk berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari. Yang perlu diketahui, anak dispraksia kurang efektif jika dimasukkan dalam kelas khusus untuk anak-anak yang mengalami kesulitan belajar. Yang dibutuhkan olehnya adalah terapi satu lawan satu yaitu suatu terapi dimana satu orang anak dispraksia ditangani oleh satu orang fisioterapis atau speech pathologist. Mereka butuh penanganan dan dukungan profesional secara teratur.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *